Home
Selamat Datang! di situs resmi Yayasan Pijar Cendikiawan, sebuah yayasan yang konsen di bidang Energi Terbarukan (Renewable Energy) dan pemberdayaan masyarakat
 
Hanya 1 dari 10 Orang Indonesia yang Paham Energi Terbarukan
Ditulis oleh: Administrator   
Wednesday, 15 June 2011

Hasil survey yang dilakukan GE Energy di Indonesia menyatakan 1 dari 10 orang Indonesia yang paham mengenai energi terbarukan ditengah kekhawatiran soal polusi udara. Survei menunjukkan ada lebih dari separuh responden memiliki pemahaman yang cukup mengenai penyebab polusi udara.  Ini ditunjukkan dengan kemampuan mereka mengidentifikasi pembakaran bahan bakar fosil seperti batu bara, diesel dan gas guna pembangkitan tenaga listrik sebagai salah satu dari tiga penyebab terbesar polusi udara. Menurut survey Hanya satu persen responden yang dapat mengidentifikasi energi panas bumi sebagai suatu bentuk energi terbarukan, walaupun panas bumi direncanakan sebagai sumber hampir separuh dari program pembangkit listrik Indonesia selanjutnya yang memiliki kapasitas 10.000 megawatt (mw).

 

Selengkapnya...
 
Kenaikan TDL dan Daya Juang Negara dalam Pengelolaan Energi Nasional
Ditulis oleh: Administrator   
Thursday, 09 June 2011
Kenaikan Tarif Dasar Listrik akan diberlakukan terhitung 1 Juli 2010. Hal ini menimbulkan banyak pertanyaan terkait keputusan tersebut. Pasalnya akar permasalahan serta maksud dari penaikan TDL ini belum juga tersosialisasikan dengan baik di tengah masyarakat. Kenaikan tarif dasar listrik menjadi sebuah ironi di tengah melimpahnya sumber energi di Indonesia.
Berdasarkan perhitungan subsidi listrik RAPBN perubahan 2010 Biaya Pokok Penyediaan tenaga listrik adalah 144,35 triliun. Tingkat pendapatan yang dibutuhkan adalah sebesar 155,90 triliun. Sedangkan pendapatan dari penjualan tenaga listrik hanya sekitar 95,8 triliun. Sehingga, masih dibutuhkan dana sekitar 60 triliun untuk menutupi kekurangan biaya tersebut. Namun, alokasi dana dari APBN perubahan 2010 hanya sekitar 55,15 triliun. Maka masih terdapat biaya yang belum tertutupi jika hanya mengandalkan alokasi dana dari APBN. Lalu apakah dengan mempertahankan angka alokasi subsidi untuk listrik merupakan langkah yang tepat sasaran untuk mensejahterakan rakyat? Dan apakah kenaikan TDl merupakan solusi yang tepat?
 
Pengendalian subsidi
Subsidi secara umum dipahami sebagai suatu bantuan keuangan yang diberikan oleh pemerintah dalam bentuk pengeluaran/pembayaran yang dilakukan oleh pemerintah kepada institusi rumah tangga ataupun swasta yang ditujukan untuk menggerakkan konsumsi[1]. Yang perlu kita perhatikan dalam hal ini adalah prinsip kehati-hatian dalam mengeluarkannya. Dampak negatif subsidi yang diwaspadai adalah adanya distorsi perekonomian yang selanjutnya hanya akan menghasilkan kondisi ekonomi berbiaya tinggi. Hal ini disebabkanoleh harga barang yang akan terus merangkak naik sebagai respon dari permintaan barang yang meningkat. Pada akhirnya ketika harga sudah tidak terkendali maka akan terjadi inefisiensi dalam anggaran. Padahal selain melakukan proteksi pada kesejahteraan masyarakat, Negara pun harus mendewasakan masyarakat dengan menghantarkan masyarakat dalam realitas secara bertahap dan proporsional tanpa mencederai hak-haknya. Terutama bagi mereka yang memang belum mampu.
Saat ini negara telah menghabiskan hampir sepertiga APBN untuk subsidi dan membayar bunga utang. Pada tahun 2010 Anggaran belanja Negara[2] adalah sebesar 1.126 Trilyun rupiah dan terjadi defisit dalam perbandingan anggaran dan pendapatan negara sebesar 133 Trilyun Rupiah. Ironisnya, 201 Trilyun rupiah dihabiskan untuk subsidi. Hal itu terdiri dari Subsidi BBM dan LPG 90 trilyun Rupiah, listrik 55 trilyun Rupiah, dan lain-lain. Jika subsidi ini tidak dikendalikan bagaimana pemrintah dapat memenuhi kebutuhan pokok rakyat lainnya? Misalnya untuk pendidikan dan kesehatan. Untuk itu memang dibutuhkan kebijaksanaan Pemerintah untuk mengalokasikan anggaran sehingga lebih tepat sasaran.
Selengkapnya...
 
Pemanfaatan tehnologi cogeneration pada kendaraan bermotor
Ditulis oleh: Administrator   
Tuesday, 31 May 2011

Bagi kalangan, khususnya yang berkecimpung di bidang energi ataupun engineering (mekanik , listrik) , istilah cogeneration mungkin tidak asing lagi. Cogeneration atau ko-generasi yang maksudnya adalah produksi bersama dua bentuk energi ( contoh : air panas / uap dan listrik) dari satu sumber. Dalam contoh ini, dari satu suplai energi (misal bahan bakar gas untuk gas engine / genset) secara bersamaan dihasilkan air panas dan listrik. Komposisi ini secara signifikan akan menambah efisiensi unit, lebih ekonomis dan dapat mengurangi dampak pencemaran CO2 ke lingkungan sekitar kita. energi lebih bisa merupakan gas panas hasil dari proses pembakaran mesin atau genset, yang dibuang melalui knalpot atau cerobong asap, atau kelebihan daya mekanis yang bisa diberdayakan untuk menggerakkan sistem lain , umpamanya motor-generator di kapal

Rusia umpamanya, sejak perang dunia ke-2 telah memanfaatkan betul teknologi “motor-generator” ini, antara lain di kapal-kapal besar, baik kapal penumpang, kapal barang ataupun kapal pemecah es. Pada sumbu / as baling-baling kapal di-kopelkan generator yang lebih kecil kapasitasnya, yang menghasilkan sumber daya listrik tambahan / cadangan untuk mensuplai berbagai peralatan lain di kapal ( misalkan : alat komunikasi, penerangan / lampu darurat dsb). Jadi dari satu sumber bahan bakar (diesel atau gas) untuk menggerakan mesin (dan baling-baling tentunya) dihasilkan daya energi lain yaitu listrik Efisiensi jelas lebih baik, dibandingkan jika hanya untuk penggerak baling-baling saja !

Selengkapnya...
 
Gasifikasi Biomassa untuk Alternatif Sumber Energi yang Ramah Lingkungan
Ditulis oleh: Administrator   
Thursday, 28 April 2011
Sebagai negara agraris, Indonesia memiliki potensi biomassa yang sangat berlimpah. Biomassa seperti bonggol jagung dan sekam padi yang selama ini hanya dibuang atau habis dibakar, memiliki potensi yang besar untuk dijadikan alternatif bahan bakar. Hal itulah yang mendorong Guru Besar program studi Teknik Kimia, Prof. Dr. Herri Susanto, untuk melakukan penelitian dalam bidang Gasifikasi Biomassa. Penelitian ini berhasil memenangkan bantuan dana riset Tanoto Professorship Award dari Tanoto Foundation selama 3 tahun, terhitung sejak 6 Agustus 2007. Hari Jumat (12/11/10) kemarin Prof. Herri menyampaikan kepada publik hasil-hasil apa saja yang telah didapatkannya selama memperoleh bantuan dana riset sebesar 1,2 miliar Rupiah tersebut.
Selengkapnya...
 
Kondisi EBT di INDONESIA
Ditulis oleh: Administrator   
Thursday, 26 May 2011
Sektor energi di Indonesia mengalami masalah serius, karena laju permintaan energi di dalam negeri melebihi pertumbuhan pasokan energi. Minyak mentah dan BBM sudah diimpor guna mengatasi permintaan yang melonjak dari tahun ke tahun sehingga ketahanan energi nasional rentan terhadap fluktuasi harga dan pasokan/permintaan minyak mentah dunia.
Energi Baru dan Terbarukan (EBT) harus mulai dikembangkan dan dikuasai sejak dini, dengan mengubah pola fikir (mind-set) bukan sekedar sebagai energi altenatif dari bahan bakar fosil tetapi harus menjadi penyangga pasokan energi nasional dengan porsi EBT >17% pada tahun 2025 (Lampiran II Keppres no.5/2006 tentang Kebijakan Energi nasional) berupa biofuel >5%, panas bumi >5%, EBT lainnya >5%, dan batubara cair >2%,  sementara energi lainnya masih tetap dipasok oleh minyak bumi <20%, Gas bumi >30% dan Batubara >33%. Pemerintah berkomitmen mencapai visi 25/25, yaitu pemanfaatan EBT 25% pada tahun 2025.
Program-program untuk mencapai target >17% (atau 25%) EBT adalah listrik pedesaan, interkoneksi pembangkit EBT, pengembangan biogas, Desa Mandiri Energi (DME), Integrated Microhydro Development Program (IMIDAP), PLTS perkotaan, pengembangan biofuel, dan proyek percepatan pembangkit listrik 10.000 MW tahap II berbasis EBT.
Upaya penganekaragaman (diversifikasi) sumber energi lainnya selain minyak bumi terus dilakukan, di antaranya pemanfaatan gas, batubara, EBT (air/mikrohidro, panas bumi, biomassa, surya, angin, gelombang/arus laut, BB Nabati, nuklir), batu bara cair dan gas (liquified, gasified coal).
Tahun 2011, Pemerintah merencanakan 35 Desa Mandiri Energi (DME) berbasis non BBN, yaitu PLTMH 10 lokasi (5 di Sumatera, 2 di Jawa, 3 di Kalimantan 4 di Sulawesi, 2 di Nusa tenggara, 1 di Maluku dan Papua), arus laut 1 lokasi, Hibrid 1 lokasi, peralatan produksi (sisa energi listrik dari EBT) 10 lokasi. 
Tahun 2010, Desa Mandiri Energi (DME) sudah dikembangkan di 15 wilayah di Indonesia, 9 di luar P. Jawa  dan 6 di P. jawa. Th 2009, program DME mencapai 633 desa, dengan rincian Tenaga Air 244 desa, BB Nabati 237 desa, Tenaga Surya 125 desa, Biogas 14 desa, Tenaga Angin 12 desa, Biomassa 1 desa.
Selengkapnya...
 
Cara Kuba Mengatasi Krisis Energi
Ditulis oleh: Administrator   
Wednesday, 11 May 2011
Berbeda dengan Indonesia yang menanggulangi kekurangan energi dengan pencarian pinjaman baru dan pembangunan pembangkit listrik yang mengandalkan bahan bakar fosil, Kuba lebih menekankan pemanfaatan sumber energi terbarukan (renewable) dengan melibatkan seluruh rakyat. Ini merupakan keberhasilan - apalagi di tengah impitan embargo negara sebesar AS - yang patut dijadikan pelajaran."
Beberapa waktu lalu, 20 spesialis konservasi energi dari AS pergi ke Kuba untuk melihat cara warga negara itu menangani krisis energi. Laporan yang kemudian dibuat para ahli AS itu menyebutkan, Kuba adalah sebuah negara yang telah bekerja keras mencukupi diri dalam bidang energi, serta melakukan pelbagai usaha besar di bidang penelitian dan pengembangan. Di antaranya melalui pemanfaatan aneka jenis sumber daya energi terbarukan (renewable), seperti biomassa, biogas, tenaga mikrohidro, energi angin, serta tenaga matahari.

Selengkapnya...
 
<< Awal < Sebelumnya 1 2 Selanjutnya > Akhir >>

Hasil 1 - 11 of 14

Login






Lupa Password?
Belum punya akun? Daftar

Statistik

Visitors: 322784

Yang Online



© 2012 Yayasan Pijar Cendikiawan.
Hosted By VIPNET Lampung